Goodbye First Love

Goodbye First Love

Note: hanya pelampiasan kegalauan author karena naik ke kelas 9 dan tidak sekelas lagi dengan si ‘dia’ T^T

Aya-chan present:

Goodbye First Love

A Vocaloid Fanfiction

Cast(s): Aoki Lapis, Utatane Piko, Tone Rion.

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Vignette.

Disclaimer: Vocaloid©Yamaha Corp. Story owned by me.

Ujian kenaikan kelas sudah selesai, semua murid hanya tinggal menunggu pembagian rapot dan kelas baru. Ya, mereka kemungkinan besar tidak akan satu kelas lagi. Di antara mereka, ada yang tak mau berpisah satu sama lain, termasuk tiga gadis yang tengah duduk bersebalah di bangku ke dua.

“Ah, sepertinya aku akan sekelas lagi dengan Lapis-chan.” Keluh salah satu di antara mereka, yang bersurai merah panjang—Culnoza. Yang disebut tersenyum, melanjutkan membaca komiknya.

“Kalau aku kayaknya sih bakal sekelas lagi sama Lapis-chan.” Kini seorang yang lain, Yuzuki Yukari, merangkul gadis yang sedari tadi dibicarakan, gads dengan surai rambut gradasi biru dan ungu, Aoki Lapis.

“Iya, kemungkinan besar aku sekelas lagi sama Yukari-chan, kalau Cul-chan kayaknya bakal sekelas sama Mew-chan, ya?” tebak Lapis, menaruh komiknya di atas meja.

“Iya, mungkin aja sih aku sekelas lagi sama Mew.” Jawab Cul, menopang dagunya dengan tangan.

“Hee,” gumam Cul yang membuat Lapis dan Yukari menoleh “Piko-kun kira-kira kelas apa, yaa?” ujarnya sambil menyeringai ke arah Lapis, diikuti Yukari yang ikut tersenyum penuh arti pada Lapis.

“Ma-mana aku tahu!” Lapis beranjak dari kursinya dengan wajah memerah dan menoleh ke arah seseorang di pojok ruangan yang nampak bercengkrama bersama siswa lain, gadis muda itu nampak memperhatikan seorang pemuda berambut silver—Utatane Piko—namun segera berpaling dan berlalu keluar saat Piko membalas tatapannya.

Kalian bertanya kenapa?

Ya, benar, Lapis menyukai pemuda bermarga Utatane itu. Sayangnya,

Itu hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan.

~*~

Lapis berjalan lesu menuju rumahnya, mengabaikan bus yang seharusnya ia naiki. Ia hanya ingin mempunyai waktu untuk berfikir, ya, berfikir. Berfikir tentang Piko, yang mengejutkannya adalah cinta pertama gadis berambut indah ini.

Ia menggelengkan kepalanya, tak habis pikir bagaimana bisa ia menyerahkan cinta pertamanya—yang bertepuk sebelah tangan—pada pemuda seperti Piko. Yang dimatanya sama sekali bukan tipenya. Tapi… cinta memang buta, ya?

Mereka bertemu saat awal kelas dua SMA, dan Lapis langsuk menyukai bagaimana cara Piko memandangnya. Bukan, saat itu ia belum jatuh cinta pada Piko. Satu semester kemudian, ia mulai jatuh cinta padanya. Dan, ya, kalian benar, itu adalah cinta pertama Lapis. Asal kalian tahu, satu tahun menggenggam satu cinta yang bertepuk sebelah tangan bukanlah sesuatu hal yang mudah bagi Lapis.

Ditambah lagi, ia tahu sepenuhnya kalau Piko menyukai—atau mencintai—orang lain. Sakit hati? Jelas. Gadis ini bahkan sampai menangisi kebodohannya, bodoh karena mencintai Piko, hei… tapi mencintai seseorang itu takdir, kan? Walaupun tahu akan hal itu, Lapis tetap merasa dirinya itu bodoh.

Tone Rion, setahu Lapis, Piko mencintai gadis itu. Rion satu kelas dengan Piko dan dirinya, satu hal yang membuat Lapis tak tahan berada lama-lama di dalam kelas adalah kedekatan Rion dan Piko. Mereka memang—mungkin—tidak pacaran, tapi mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih, sungguh.

Walaupun Lapis mencintai Piko, ia tahu, ia tak pantas untuk Piko. Rion pasti lebih pantas untuknya, jelas. Rion adalah gadis pintar yang dikenal seantero sekolah, sedangkan Lapis? Ia hanya lah gadis biasa yang tidak menonjol sama sekali. Lapis memandang kosong jalanan yang dipijaknya, sekosong perasaannya saat ini.

Tiba-tiba ia berhenti, menggigit bibir bawahnya sementara matanya terpejam erat. Mengeluarkan air mata. Gadis itu menangis. Ia menahan isakannya dengan menggigit bibir bawahnya, namun masih terdengar bunyi sesenggukan yang menyayat hati. Bahunya terlihat bergetar, tangannya menggenggam erat tali tas yang bertumpu pada tubuhnya.

Kakinya serasa begitu berat untuk digerakkan, walaupun jelas terlihat bahwa hujan akan segera turun. Selang beberapa menit, hujan benar-benar turun. Deras sekali, hingga isakan Lapis tak terdengar, begitu juga dengan air hujan yang menghapus air mata miliknya. Menyesakkan, memang.

Tapi… memangnya apa yang ia bisa lakukan?

Ia hanya seorang gadis dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sesakit apapun perasaannya, sekeras apapun usahanya, seberapa pun ia mencintai Piko, pemuda itu akan tetap mencintai Rion, dan bukan dirinya.

Isakan yang tenggelam di antara derasnya derik air hujan yang menghapus air matanya lalu jatuh menghantam bumi begitu jelas terdengar, jika kalian melihat ke dalam matanya. Mata itu menyiratkan kesedihan yang tegas di balik kelamnya keputus asaan semu, iris yang indah itu menyimpan berjuta perasaan memilukan.

Ia meutuskan untuk melanjutkan langkahnya, berusaha melupakan apa yang ada di belakangnya.

Benarkah?

Benarkah ia ingin melupakan masa lalunya?

Benarkah ia ingin melupakan cinta pertamanya?

Benarkah ia ingin melupakan pemuda itu?

Namun, sekeras apapun ia mencoba, ia tak dapat menghilangkan semua itu dari ingatannya.

~*~

Pembagian rapot. Sebentar lagi liburan, maka Lapis dan Piko akan berpisah.

“Lapis-chan, gimana nilainya?” tanya Cul. Gadis yang sedari tadi tengah memikirkan pemuda bersurai silver itupun menoleh kaget namun buru-buru tersenyum pada temannya itu.

“Lumayan, kalau Cul-chan?” sahut Lapis. Cul tersenyum, menyerahkan rapotnya pada Lapis, nilainya hampir sama dengan Lapis.

“Rion-chan hebat, ya. Nilai rapotnya paling bagus.” Puji Lapis pada Rion, menenggelamkan egonya dalam kepalan tangannya. Rion tersenyum, begitu manis. Pantas Piko menyukainya.

“Makasih, Lapis-chan kuga nilainya bagus, tuh!” balas Rion, menggait lengan Lapis. Mereka memang kenal dekat, maka dari itu, Lapis juga tahu kalau Rion juga menyukai Piko.

“Iya, makasih.” Lalu Rion berlalu ke arah kelompoknya.

“Eeh! Pi-piko-kun! Gimana nilainya?” tanya Lapis gugup. Piko tersenyum.

“Teehee, pasti tidak sebagus Lapis-chan.” Cengirnya, membuat jantung Lapis berdegup kencang.

~*~

Liburan di habiskan gadis ini dengan diam di rumah, sesekali mengecek jejaring sosialnya atau berhubungan dengan teman-temannya lewat ponsel. Namun, ia ingin mengetahui sesuatu.

“Aku dan Piko-kun sekelas tidak, ya…?”

Ia mengakses web resmi sekolahnya, dan merenggut kecewa begitu tahu bahwa ia tak sekelas dengan Piko. Ia memutuskan untuk menghentikan akses internet, tapi berubah saat ia melihat ikon salah satu jejaring sosial.

Pilihan yang salah, di mana saat ia membuka jejaring sosial, yang ditemukannya adalah…

‘Piko dan Rion, semoga langgeng, ya!’

‘Cieee, yang baru jadian! Utatane Piko dan Tone Rion~’

‘PeJe ya, PeJe!’

Mata itu melebar tak percaya. Namun ia dengan cepat tersenyum. Larena ia benar-benar tahu.

Bahwa ini hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Ia menunduk, kepalanya terkulai di atas meja komputernya. Mata itu menyiratkan kesedihan yang mendalam dan penyesalan yang bergemuruh dalam aura kepedihan.

“Goodbye, first love.”

~*OWARI*~

Oke, apa ini?!

Baiklah, saya tahu alurnya kecepetan dan sebagainya, tapi ini hanyalah fic yang di buat dlam waktu 30 menit, jadi wajar kalau hasilnya ancur gini. Tapi… comment sangatlah membantu.

Arigatou~

Hyakumonogatari

HYAKUMONOGATARI..
VOCALOID KINGDOM FANFICTION
Genre:Angst-Yandere-horor

Awas:SAYA gak PINTER bikin horor,jadi maap kalau jelek..kalau emang ga ada serem seremnya,coret horor dari daftar genre *ngeliat genre* hehehe..udah saya coret tuh #plak -w-)/ and sorry for typo
Summary: “kalau semua lilin mati..BOOM! semua akan datang!” “semua?” “Mahkluk halus..”

HYAKUMONOGATARI

Baca lebih lanjut

Mac版Vocaloidに関して、現在わかっていることのまとめ #VOCALOID

モバイルとシンセで音楽作りな話

[2013年7月25日追記:「MACで動作するVOCALOID、VOCALOID NEOに関する現時点でのまとめ #VOCALOID」でヤマハなど各社から正式に発表されたMac対応について記載しています]

かなり意外なタイミングで「参考出品」とはいえどYAMAHAからMac版Vocaloidが出てきて話題となった。現在Crossover Macを使ってMac上でWindows版Vocaloid 3 Editorを愛用している本ブログとしてもかなり気になる内容なので、今のところ出ている情報をまとめてみた。
ちなみに、発売時期は秋頃を目標に開発を進めておりますが、まだ決定しておりません。とのことなので正確なリリース時期や価格などはまだ一切不明。本記事ではTWなどで話題になっていたVocaloidの動作環境や既存ライブラリの利用について書いてみる。

Lihat pos aslinya 79 kata lagi

How the Nyan Cat was Born

CPMS Roar News

Have you ever wondered how the Nyan Cat was made? The person- well, robot that sang it was the international diva, Hatsune Miku. Lots of people have loved many of her songs, but not as much as this one. The person who made this was a remixer and adapted Miku’s song to sound just like the rainbow poptart cat we all know. The original song called “Nyanyanya” translated, “Mewmewmew”, was one of the top hits of most of the songs she’s made. Other people have used different softwares and covered the song as well. The most popular cover was by an Utauloid, (A software that a regular person can make at home for free), Momone Momo. (Which translates to “Peachy Peach”). So, if you were to choose, would you pick Hatsune Miku’s version, Momo’s version, or the original adapted version?

 MomoMIKU.

Lihat pos aslinya